Sampoerna University dan Institute of Science Tokyo Kolaborasi Atasi Masalah Lingkungan Lewat Program BESTS 2026
Sampoerna University dan Institute of Science Tokyo Kolaborasi Atasi Masalah Lingkungan Lewat Program BESTS 2026
Sampoerna University kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi pemimpin masa depan yang peduli terhadap keberlanjutan melalui penyelenggaraan Building Entrepreneurial Mindset for Sustainable Technology and Society (BESTS) Program 2026. Memasuki tahun kedua, inisiatif strategis ini kembali diperkuat melalui kolaborasi internasional dengan Institute of Science Tokyo, Jepang. Program ini tidak sekadar menjadi kegiatan akademik biasa, melainkan sebuah laboratorium nyata yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pola pikir kewirausahaan (entrepreneurial mindset), kemampuan analitis, serta kepekaan sosial dalam mengidentifikasi peluang sekaligus merancang solusi berkelanjutan bagi tantangan lingkungan global.
Di tengah meningkatnya krisis iklim dan permasalahan limbah yang mendunia, BESTS 2026 hadir sebagai jembatan yang menghubungkan teori di bangku kuliah dengan realitas di lapangan. Melalui kurikulum yang intensif, mahasiswa dari kedua institusi diajak untuk tidak hanya memahami konsep sustainability, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung. Rangkaian kegiatan tahun ini lebih menantang dengan memperluas cakupan pembelajaran melalui studi lapangan lintas negara. Mahasiswa mendapatkan kesempatan langka untuk melakukan riset mendalam di Indonesia dan Jepang, mengeksplorasi perbedaan budaya, teknologi, serta kebijakan lingkungan yang diterapkan di kedua negara tersebut. Pengalaman lintas budaya ini menjadi krusial agar mahasiswa mampu melihat masalah lingkungan dari perspektif yang lebih luas dan komprehensif.
Salah satu daya tarik utama dari program BESTS 2026 adalah fokusnya pada pengembangan proyek inovatif yang berbasis pada penanganan sampah dan pemanfaatan energi terbarukan. Para mahasiswa dibagi ke dalam kelompok kolaboratif yang menggabungkan kecerdasan mahasiswa Sampoerna University dan Institute of Science Tokyo untuk menciptakan solusi praktis yang bernilai ekonomi.
Salah satu proyek yang menyita perhatian adalah A Circular Economy Business for Fishing-Net Waste in Tanimbar. Proyek ini digawangi oleh tim mahasiswa yang terdiri dari Chintya Ramadhani, Keyzia Ariola Putri, Stivan Delon Sahertian, Tsukui Shun, dan Mardo Malawau. Mereka menyoroti permasalahan limbah jaring ikan yang menumpuk di Kepulauan Tanimbar. Jaring ikan bekas yang dibuang sembarangan seringkali mencemari ekosistem laut dan mengancam keanekaragaman hayati. Dengan pendekatan ekonomi sirkular, tim ini merancang model bisnis untuk mengumpulkan limbah tersebut dan mendaur ulangnya menjadi bahan baku pembuatan jaring ikan baru yang lebih ramah lingkungan. Inovasi ini tidak hanya menyelesaikan masalah limbah, tetapi juga memberikan nilai ekonomi baru bagi masyarakat pesisir di Tanimbar.
Di sisi lain, terdapat inovasi teknologi Eco-Fuel yang diinisiasi oleh Harsen Ramadhan, Luthfi Ahmad, Nona Brillyanti, Koki Nakazaki, dan Hiroki Nozaki. Tim ini fokus pada pengolahan limbah plastik yang memiliki nilai ekonomi rendah, seperti plastik pembungkus atau limbah kemasan yang sulit didaur ulang secara konvensional. Melalui proses pirolisis—sebuah metode termokimia untuk menguraikan material organik dengan panas tinggi tanpa oksigen—mereka berhasil mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar cair alternatif. Inovasi ini dirancang khusus untuk membantu sektor pertanian, di mana biaya bahan bakar untuk mesin-mesin tani seringkali menjadi beban berat bagi petani. Dengan memanfaatkan limbah plastik sebagai sumber energi, proyek ini memberikan solusi ganda: mengurangi polusi plastik di lingkungan sekaligus menekan biaya operasional sektor pertanian.
Dr. Farid Triawan, selaku Dean of Faculty of Engineering and Technology Sampoerna University, menegaskan bahwa program BESTS merupakan wadah nyata bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu akademik pada permasalahan masyarakat dan industri yang kompleks. Menurutnya, pendidikan tinggi di era modern harus mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya ahli secara teknis, tetapi juga memiliki empati dan visi kewirausahaan.

"BESTS memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk keluar dari ruang kelas dan melihat secara langsung bagaimana isu sustainability hadir dalam kehidupan masyarakat maupun dunia industri. Inisiatif ini sejalan dengan visi Sampoerna University dalam mengembangkan lulusan dengan entrepreneurial mindset, yaitu kemampuan untuk melihat peluang dari berbagai persoalan, mengembangkan solusi, dan menciptakan nilai dari pengetahuan yang mereka miliki," ujar Farid, Rabu (16/9/2026).
Kolaborasi dengan Institute of Science Tokyo juga memberikan dimensi baru dalam transfer teknologi. Mahasiswa Indonesia dapat belajar mengenai ketelitian dan efisiensi teknologi Jepang, sementara mahasiswa Jepang dapat memahami konteks permasalahan lingkungan di negara tropis yang sedang berkembang seperti Indonesia. Pertukaran ide ini menciptakan sinergi yang unik, di mana teknologi canggih bertemu dengan pemahaman mendalam tentang kebutuhan masyarakat lokal.
Lebih jauh, program ini juga menanamkan pentingnya kolaborasi global dalam mengatasi masalah lingkungan. Isu keberlanjutan tidak bisa diselesaikan oleh satu negara saja. Dengan membangun jaringan antara mahasiswa dari dua negara, Sampoerna University dan Institute of Science Tokyo sedang menyiapkan generasi pemimpin masa depan yang terbiasa bekerja dalam lingkungan multikultural untuk tujuan kemanusiaan dan lingkungan.
Keberhasilan proyek-proyek yang lahir dari BESTS 2026 ini diharapkan tidak berhenti pada tahap prototipe atau laporan akademik saja. Pihak universitas berkomitmen untuk terus mendukung mahasiswa dalam mematangkan ide-ide tersebut hingga layak diimplementasikan dalam skala yang lebih besar. Hal ini sejalan dengan misi universitas untuk terus berkontribusi pada pengembangan ekosistem inovasi di Indonesia.
Dengan pendekatan entrepreneurial mindset, mahasiswa diajarkan untuk berpikir kritis, kreatif, dan berorientasi pada hasil. Mereka tidak lagi melihat sampah sebagai masalah yang tidak berguna, melainkan sebagai sumber daya yang belum terolah. Inilah inti dari sustainability yang sesungguhnya: mengubah tantangan menjadi peluang yang bermanfaat bagi manusia dan bumi.
Program BESTS 2026 bukan sekadar program pertukaran pelajar atau kegiatan riset biasa. Ini adalah sebuah gerakan untuk mengubah paradigma mahasiswa dalam melihat peran mereka di masyarakat. Dengan dukungan penuh dari Sampoerna University dan kolaborasi strategis dengan Institute of Science Tokyo, program ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran vital dalam menuntun masyarakat menuju masa depan yang lebih hijau, berkelanjutan, dan inovatif. Melalui proyek-proyek seperti pengolahan jaring ikan dan konversi plastik menjadi bahan bakar, mahasiswa telah menunjukkan bahwa solusi atas masalah lingkungan sebenarnya ada di tangan generasi muda, selama mereka diberikan wadah dan dorongan yang tepat untuk berkarya. Kedepannya, program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak mahasiswa serta mitra industri, menciptakan dampak yang lebih luas bagi Indonesia dan dunia.
