ASEAN Foundation Luncurkan ‘AI Ready ASEAN’, Sasar 1,7 Juta Guru dan Siswa hingga 2028
ASEAN Foundation Luncurkan ‘AI Ready ASEAN’, Sasar 1,7 Juta Guru dan Siswa hingga 2028
ASEAN Foundation secara resmi meluncurkan fase kedua dari inisiatif "AI Ready ASEAN Powered by AI Opportunity Fund: Asia-Pacific" yang menandai komitmen besar kawasan Asia Tenggara dalam mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) secara etis dan produktif. Inisiatif yang diumumkan dalam Sesi Terbuka Pertemuan Pejabat Senior ASEAN untuk Pendidikan (SOM-ED) ke-21 ini dirancang sebagai peta jalan strategis hingga akhir tahun 2028. Dengan dukungan penuh dari Google.org, Asian Development Bank (ADB), dan kolaborasi strategis bersama AVPN, program ini menargetkan pelatihan keterampilan AI praktis bagi lebih dari 1,7 juta individu, yang mencakup siswa sekolah menengah (K-12), tenaga pengajar, hingga dosen perguruan tinggi di seluruh negara anggota ASEAN.
Program ini bukan sekadar pelatihan teknis biasa; ia merupakan respons terhadap percepatan transformasi digital global yang menuntut kesiapan tenaga kerja masa depan. Melanjutkan kesuksesan fase pertama yang fokus pada pembangunan kesadaran (awareness), fase kedua ini menitikberatkan pada penerapan AI secara terapan (applied AI). Fokus utamanya adalah membekali para pendidik dan peserta didik dengan keahlian konkret untuk mengintegrasikan alat bantu AI ke dalam ekosistem pembelajaran, riset ilmiah, serta simulasi persiapan karier. Harapannya, AI tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai akselerator yang dapat meningkatkan efektivitas belajar-mengajar.
Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, Dr. Piti Srisangnam, menekankan bahwa keberhasilan fase pertama membuktikan antusiasme tinggi dari generasi muda dan pendidik ASEAN terhadap teknologi masa depan. Menurutnya, fase kedua ini hadir untuk menutup celah antara kesadaran dan kompetensi. "Melalui Fase 2, kami tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi secara sistemik membekali ekosistem pendidikan kawasan dengan keterampilan terapan. Kami ingin guru dan siswa menggunakan AI secara bertanggung jawab, kritis, dan percaya diri," ujar Srisangnam pada Jumat (11/9/2026). Ia menambahkan bahwa keterampilan ini adalah fondasi krusial agar masyarakat ASEAN tidak tertinggal dalam ekonomi digital global yang semakin kompetitif.
Dalam implementasinya, ASEAN Foundation mengadopsi pendekatan lokalisasi yang mendalam. Mereka menggandeng Mitra Pelaksana Lokal (Local Implementing Partners/LIPs) di setiap negara anggota. Pendekatan ini memastikan bahwa kurikulum pelatihan tidak bersifat seragam (one-size-fits-all), melainkan disesuaikan dengan konteks budaya, kebijakan nasional, dan infrastruktur digital masing-masing negara. Kolaborasi erat dengan kementerian pendidikan setempat menjadi kunci agar materi pelatihan selaras dengan standar nasional, sehingga mempermudah integrasi kurikulum AI ke dalam sistem pendidikan formal di sekolah maupun universitas.
Lebih dari sekadar pelatihan, inisiatif ini juga berfungsi sebagai platform pertukaran kebijakan. ASEAN Foundation akan menyelenggarakan serangkaian forum regional dan nasional yang mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari kementerian terkait, praktisi teknologi, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga perwakilan media. Salah satu agenda utama adalah pertemuan regional keempat yang dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026 di Singapura. Forum ini bertujuan merumuskan kebijakan pendidikan AI yang berbasis bukti (evidence-based policy), yang nantinya dapat menjadi acuan bagi negara-negara anggota dalam merancang regulasi pendidikan berbasis teknologi.

Kepala Google.org Asia Pasifik, Marija Ralic, menyatakan bahwa keterlibatan Google dalam inisiatif ini merupakan bagian dari visi jangka panjang mereka untuk mendemokratisasi akses terhadap keterampilan digital. "Literasi AI kini bukan lagi pilihan, melainkan keterampilan mendasar di abad ke-21. Pendidik memegang peran krusial sebagai agen perubahan dalam memastikan teknologi ini digunakan secara efektif dan etis. Kami bangga dapat mendukung ASEAN Foundation dalam memperluas jangkauan pelatihan yang lebih dalam dan praktis," jelas Ralic.
Senada dengan hal tersebut, CEO AVPN, Naina Subberwal Batra, menyoroti pentingnya koordinasi regional. Menurutnya, masalah sebesar kesenjangan keterampilan digital tidak bisa diselesaikan secara parsial oleh satu negara saja. "Kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa tindakan regional yang terkoordinasi dapat menghasilkan dampak yang terukur. Kami menciptakan standar baru bagaimana pengajar dan pelajar di Asia Tenggara berinteraksi dengan AI," kata Batra.
Secara makro, inisiatif "AI Ready ASEAN" selaras dengan agenda integrasi kawasan yang lebih luas. Program ini menjadi pilar pendukung utama bagi Rencana Strategis Komunitas Sosial Budaya ASEAN (ASCC) 2026-2030 dan Rencana Strategis Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC) 2026-2030. Selain itu, program ini juga mendukung Rencana Kerja ASEAN untuk Pendidikan 2026-2030 yang bertujuan mendorong akses pembelajaran digital yang inklusif. Dengan adanya inisiatif ini, diharapkan ASEAN dapat menciptakan tenaga kerja yang adaptif, inovatif, dan mampu menjawab tantangan disrupsi teknologi di masa depan.
Lebih jauh, inisiatif ini juga menyentuh aspek etika AI. Di tengah kekhawatiran global mengenai bias algoritma dan penggunaan AI yang tidak etis, program "AI Ready ASEAN" memberikan penekanan khusus pada literasi digital yang bertanggung jawab. Guru dan siswa akan diajarkan cara memvalidasi informasi yang dihasilkan AI, memahami hak cipta, serta menjaga privasi data. Hal ini sangat penting bagi kawasan ASEAN yang memiliki keragaman budaya dan sistem hukum yang berbeda-beda. Dengan memberikan pemahaman mendalam mengenai etika, ASEAN Foundation berharap dapat meminimalisir dampak negatif dari penggunaan AI yang sembarangan di lingkungan pendidikan.
Selain itu, dukungan dari Asian Development Bank (ADB) memberikan dimensi ekonomi pada inisiatif ini. ADB memandang bahwa peningkatan literasi AI adalah investasi strategis untuk meningkatkan produktivitas nasional di kawasan Asia Tenggara. Dengan 1,7 juta target penerima manfaat, program ini berpotensi besar untuk menciptakan gelombang tenaga kerja baru yang mahir AI, yang pada gilirannya akan menarik lebih banyak investasi teknologi ke kawasan ASEAN.
Ke depannya, keberhasilan program ini akan diukur tidak hanya dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan, tetapi dari tingkat adopsi AI dalam kurikulum nasional dan keberhasilan siswa dalam menerapkan AI untuk proyek-proyek inovatif. ASEAN Foundation berencana untuk terus melakukan evaluasi berkala guna memastikan bahwa materi yang diberikan tetap relevan dengan perkembangan teknologi AI yang sangat dinamis. Dengan dukungan kuat dari mitra global dan komitmen pemerintah di tingkat regional, "AI Ready ASEAN" diproyeksikan menjadi salah satu inisiatif pendidikan digital paling berpengaruh di Asia dalam lima tahun ke depan, menjadikan kawasan ini sebagai hub talenta digital yang kompetitif di kancah global.
